BINCANG-BINCANG PENGANTAR
Pernah dengar istilah kecerdasan spiritual? 5-10 tahun terakhir ini istilah tersebut meraih popularitas yang tinggi. Dia muncul sebagai sebuah konklusi mutakhir dari konsep kecerdasan. Belum ada konsep baru yang muncul untuk mengatasi atau minimal menyainginya. Saya sendiri agak sulit membayangkan bahwa nantinya akan ada konsep baru yang mengklaim realitas kecerdasan yang lebih tinggi lagi dari ini. Pencetus terminologi kecerdasan spiritual terlanjur mengalamatkan frase tersebut ke sebuah entitas yang barangkali sudah tidak bisa dicari lagi apa yang lebih tinggi dari itu, sejauh menyangkut kecerdasan manusia.
Menilik sejarah konsep kecerdasan, kita akan dihadapkan pada sebuah masa "kelam" dimana manusia mudah sekali dikategorisasikan dalam angka-angka yang menggambarkan seberapa berguna dia dalam peradaban. Angka-angka itu dikenal dengan istilah IQ (intelligence quotient). IQ adalah cerminan tingkat kecerdasan dalam berpikir yang dimiliki seseorang. Ia juga diyakini sebagai prediktor kesuksesan akademis dan karir. Singkatnya, kalau ada orang yang IQ-nya tinggi maka dia akan dengan mudah mendapat nilai tinggi di sekolah dan...dengan demikian gaji tinggi di kantor. Kenapa digaji tinggi? Karena nampaknya orang tersebut akan sangat berguna bagi kelangsungan. pertarungan rugi-laba di kantor tersebut.
Fenomena underachiever dan overachiever atau orang-orang yang berprestasi di atas atau di bawah prediksi berbasis IQ-nya membuat mata beberapa peneliti terbuka. Ternyata, kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh IQ. Bahkan, kesuksesan lebih banyak ditentukan oleh faktor lain? Faktor apa? Warisan harta orang tua? Lotere? Hehehe..bukan. Faktor tersebut adalah keterampilan mengendalikan diri. Terbukti bahwa mereka yang lebih handal dalam mengendalikan diri dalam bentuk disiplin, sabar, empati pada orang lain, adaptasi dan sebagainya adalah mereka yang sukses, bahkan ketika IQ mereka biasa-biasa saja.
Di sisi lain, manusia ber-IQ selangit, terbukti gagal total ketika tak sanggup mengendalikan dan mengelola dirinya sendiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan. Begitu katanya. Kemudian, secara agak serampangan, para peneliti yang menemukan semua itu, menciptakan label untuk konsep ini yang bertajuk "kecerdasan emosional". Sebuah istilah yang kalau tidak dikaji pemahaman di baliknya, akan semata-mata membuat kita mengira bahwa ia hanya bicara tentang kesabaran dan semacamnya.
Beberapa peneliti tidak puas dengan meyakini bahwa kecerdasan emosional adalah kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia dan kecerdasan yang paling menentukan kualitas kehidupan seseorang. Mereka mencoba bergerak lebih jauh lagi. Mengkaji gejala-gejala psikologis usang yang ditafsir ulang. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang sesungguhnya telah dibahas para filsuf eksistensial berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Namun, barang kuno itu ternyata menjadi sangat bernas dan populer ketika dikaitkan dengan konsep kesuksesan (dalam meraih hal-hal duniawi).
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah seputar apa tujuan hidup manusia? Apa maknanya? Apa yang membuat kita bahagia dan merasa "lengkap"? Bagaimana kita dibimbing oleh sesuatu yang lebih tinggi di luar kita dalam menjalani hidup? Bagaimana hubungan kita dengan alam....dan dengan....Tuhan? Yang terakhir ini sebenarnya tidak selalu terang-terangan dijadikan pokok bahasan karena Tuhan, kurang lebihnya, sudah menjadi kajian masa lalu yang dirasa kurang relevan lagi pada tahap peradaban masa kini. Namun, fitrah sebagai ciptaan membuat banyak orang sulit sekali terhindar dari kerinduan akan sosok Tuhan, meski dikemas malu-malu dalam kerangka yang agak beda dari pandangan tradisional. Sebagian menyebutnya energi alam, pribadi tinggi (higher self), jiwa alam semesta, ALIEN (!), hati nurani dan sebagainya.
Kemampuan manusia menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu dan bagaimana ia menjalani hidupnya berdasarkan jawaban-jawaban itu disebut sebagai kecerdasan spiritual. Seseorang dikatakan "cerdas" secara spiritual bila memiliki jawaban yang jitu atas hal-hal itu dan mengimplementasikan jawabannya dalam kehidupan. Sehingga, ia menjadi sosok yang berimbang, bahagia, bijaksana dan berkontribusi pada sekelilingnya.
Selama beberapa tahun belakangan, dunia mengalami banjir buku seputar kecerdasan spiritual. Yang paling populer adalah pelajaran-pelajaran tentang bagaimana manusia bisa menjadi pemenang dalam kehidupan kapitalisme dengan memanfaatkan sisi spiritualnya. Istilah-istilah seperti "berdagang ala Nabi", "meraih kesuksesan bisnis dengan kecerdasan spiritual", "pemasaran dengan hati", dan lain sebagainya mengisi rak-rak di toko buku dan di perpustakaan pribadi atau sekedar di tas ribuan orang dewasa yang sedang sibuk meraih puncak dari karir mereka.
Agak membingungkan memang. Bagaimana mungkin sebuah konsep yang demikian "surgawi" (untuk tidak menyebutnya ilahiah) ternyata mudah sekali dibawa "turun" untuk jadi kendaraan meraih kesuksesan duniawi. Sementara, sumber-sumber ajaran spiritual klasik seringkali menekankan perlunya mengambil jarak dengan apa yang profan (duniawi) ketika kita hendak mengasah spiritualitas. Saya hanya bisa simpulkan, demikianlah kita sedang menyaksikan kehandalan para penulis dan motivator-motivator ulung dalam merancang ulang struktur kesadaran manusia di titik paling rentan yaitu, hati.
BAGIAN UTAMA
Masih mungkinkah kita bicara spiritualitas tanpa mengkaitkannya dengan kesuksesan materi dan sensasi? Pertanyaan sulit. Bahkan doa-doa yang lebih sering kita panjatkan pada Tuhan masing-masing tidak beranjak jauh dari mohon dimudahkan mencari rejeki. Syukur yang kita persembahkan juga masih seputar nikmat-nikmat lahiriah. Hati pun sangat siap mengambil jarak dari Tuhan saat hidup tidak ramah pada kita. Tiba-tiba kita buta dari kasih sayangNya. Dalam sekejap....Tuhan kita pinggirkan, untuk tidak menyebutNya kita singkirkan. Hanya ketika kita sudah merasa benar-benar tak sanggup, Dia kembali kita hadirkan. Celakanya, kita hadir "di hadapan"Nya dalam keadaan terburuk, bukan terbaik. Ibarat pakaian, compang camping tanpa tambalan... dan di situ kita baru berharap padaNya...
Di titik ini, banyak orang berpendapat bahwa Tuhan tidak selalu harus jadi elemen utama dalam spiritualitas. Bahkan, tidak ada Dia dalam spiritualitas kita pun tidak mengapa. Saya pribadi meragukan ide spiritualitas semacam itu. Benarkah manusia sanggup membangun keruhanian sejati tanpa kehadiran Tuhan, walau pun hanya sebagai konsep? Lalu apa ide inti spiritualitasnya? Dapatkah kemanusiaan belaka menjadi pijakannya? Bukankah manusia sedemikian nisbi dan relatif? Dalam hal ini saya memilih menjadi konservatif dan berusaha menghormati mereka yang lebih liberal.
Immanuel Kant, seorang sosiolog dan filsuf etis dari abad lalu, meyakini bahwa terlepas dari ada tidaknya Tuhan secara nyata, konsep ketuhanan diperlukan agar manusia terkendali dalam bertingkah laku sosial. Juga agar manusia yang baik dan jahat, jelas bedanya. Memandang etika atau moralitas semata-mata sebagai hasil pergumulan manusia dengan ide-ide di kepalanya sendiri adalah tidak efektif. Harus ada sistem yang diyakini mensupervisi tingkah laku manusia terutama dalam konteks masyarakat.
Sistem itu haruslah sesuatu di luar masyarakat manusia. Jadi, bukan sekedar negara, undang-undang, pemerintah, kepala suku, United Nations, dan lain-lain. Saya sepakat dengan Kant. Bahwa agama tidak harus ada untuk memandu etika manusia, saya juga setuju. Tapi Tuhan harus ada. Apapun bentuk eksistensi-Nya. Tidak masalah bila Dia hanya sebuah tulisan di atas kertas atau sebuah kehadiran menyeluruh dalam kesadaran manusia.
Dalam hal ini Kant berujar:
Allah adalah pribadi yang menjamin bahwa manusia yang bertindak baik demi kewajiban moral akan memperoleh kebahagiaan sempurna. Jika Allah ditolak eksistensinya, maka moralitas tidak memiliki arti, karena “nasib” orang yang hidupnya baik secara moral akan sama saja dengan “nasib” orang jahat, sehingga buat apa kita hidup baik?
Sampai di sini paling tidak ada dua isu terkait spiritualitas. Yang pertama adalah "mengembalikan" spiritualitas sebagai sebuah konsep yang tidak perlu dikait-kaitkan dengan pencapaian material. Lalu, yang kedua adalah apakah kita perlu mengasosiasikan spiritualitas dengan Tuhan.
Ketika mencoba menyelesaikan tulisan ini saya sempat terhenti di paragraf yang menyitir pendapat Kant di atas. Saya tidak tahu apakah pendapat itu sedemikian mencerahkan karena isinya atau semata-mata karena ia diucapkan oleh seorang filsuf yang kredibilitasnya baik di dunia akademis. Akhirnya saya berpikir bahwa pendapat itu memang layak dijadikan pegangan. Karena saya menyaksikan bagaimana orang-orang yang mengembangkan spiritualitas non-teistik pun tidak dapat mengelak dari "memuja" sesuatu yang diyakini lebih tinggi dari dirinya sendiri. Sesuatu itu bisa sebuah ide primordial atau ideal, tokoh-tokoh pemikiran yang diyakini, atau sekedar sebuah keadaan mental yang diburu. Buat saya, itu sekedar tuhan-tuhan baru. Memang nampaknya berbeda dengan tuhan-tuhan di ajaran berbagai agama, tapi perbedaan mendasarnya cuma bahwa tuhan-tuhan mereka tidak mengalami personifikasi. Dengan kata lain, tuhan mereka tidak memiliki kepribadian sendiri.
Bagaimana pun, mereka membutuhkan muara dari kehidupan mereka. Tempat dimana mereka berjumpa dengan apapun itu yang mereka puja. Sama seperti orang beragama yang mencari surga, akhirat, manunggaling kawula gusti, wajah Allaah, dan sebagainya.
Karena spiritualitas adalah usaha mencari jalan menuju muara kehidupan kini dengan sasaran pemujaan, layakkah ia dijadikan sekedar alat menjalani kehidupan, seperti yang digaungkan para guru-guru kesuksesan pengusung konsep kecerdasan spiritual? Layakkah bila ia hanya media dan bukan arus utama kesuksesan? Keberhasilan sejati justru ada pada pencapaian spiritual, bukan pencapaian material yang dibingkai dengan spiritualitas. Setidaknya itu menurut saya.
Dengan demikian, yang perlu dilakukan adalah mengalihkan perhatian orang dari apa pun itu selain spiritualitas. Selebihnya, biarkan berjalan mengikuti arus. Jadikan manusia bergerak menuju muara masing-masing. Jangan sekedar bercerita tentang seperti apa muara itu lalu tetap saja orang dihimbau untuk menggapai kesuksesan yang pada dasarnya tidak ruhani sama sekali.
Ini cuma pemaparan keadaan saat ini, suatu saat ia harus berubah. Menjadi yang sebaiknya, sesuai akar alaminya. Inovasi tidak dibutuhkan dalam hal ini, yang diperlukan justru keberanian mengubah total paradigma pragmatis menuju makna spiritualitas sejati.
Sanggupkah kita benar-benar menuju ke sana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar