Sebenernya secara teoretis, ada yang mendefinisikan kebutuhan eksistensi sebatas kebutuhan untuk hidup atau "ada" secara minimal, ya itu tadi, secara fisik. Maksud gue, ini mengacu pada kebutuhan-kebutuhan dasar seperti makan, minum, tidur, pakaian dll. Tapi sebenernya, menjadi eksis adalah lebih dari sekedar itu. Ya nggak?
Bayangkan, cukup makan, cukup minum, cukup tidur, cukup berpakaian pantas tapi dianggap tidak ada oleh sekeliling lo. Lo ada atau nggak ada, no one really cares. Hidup mereka berjalan baik-baik aja tanpa lo. Bahkan, saking dianggap gak eksisnya elo, sampe-sampe mereka nggak nyadar lo tuh mungkin aja penting. Misalnya, kalau lo seorang janitor yang selalu bikin bersih lingkungan tempat lo kerja. Barangkali banyak orang tidak pernah menyadari eksistensi atau keberadaan lo sampe lo bener-bener nggak ada. Baru berasa, bahwa tanpa lo, mereka gak bisa kerja dengan nyaman.
Kayaknya agak paradoks ya? Di satu sisi lo gak digubris, tapi di sisi lain, ketika lo gak ada, orang pada panik. hehehe... well, thats life.. people tend to not pay enough attention to things they do not do, even when it actually affects them. They will start to notice when it does not exist, out of the sudden.
Jadi, mau tau betapa pentingnya elo untuk lingkungan lo? Stop doing your thing! ...and observe...
Ok, mari bicara lebih jelas. Tentang kebutuhan eksis. Kenapa sih itu jadi kebutuhan? Ini sebenernya sebuah problem filosofi yang udah berabad-abad coba dipecahkan, tapi begitu ketemu satu pemecahan, problem berikutnya muncul. Mulai dari filsuf super senior kelas dunia semacam Socrates, sampe ke yang lokal punya kayak eks mendikbud kita, Fuad Hasan, semua mencoba melakukannya. Namun, nampaknya memang ini adalah obyek pemikiran yang gak akan ada habisnya. Bahkan, di tingkat individual, di masing-masing orang, ini juga bagaikan tambang minyak tanpa batas deposit. Adaaaa terus....
Seorang filsuf, Nietzsche, pernah bilang "the you is older than the I". Maksudnya, gue tuh menyadari keberadaan "lo" dulu sebelum gue menyadari keberadaan "gue" sendiri. Kalau nggak ada "elo", gue juga gak menyadari bahwa "gue" itu ada. Pernyataan ini bener banget deh kayaknya. Gimana nggak? Siapa sih yang gak butuh "elo" untuk merasa "gue" itu eksis? Lebih menyedihkan lagi, "gue" butuh "elo" bereaksi atas keberadaan fisik "gue" agar gue yakin bahwa "gue" betul-betul ada atau eksis. Kalau "elo" diem aja dan cuek aja sama "gue", maka "gue" gak eksis. Gitu kira-kira.
Dan, lo tau gak? Betapa banyak perilaku kita didorong oleh prinsip tersebut. Betapa banyak piihan-pilihan hidup kita dibuat sekedar untuk menunjang eksistensi "gue" di hadapan "elo-elo semua". Terutama ketika kita telah memilih sebuah modus eksistensi atau bahasa gampangnya peran tertentu. Waktu "gue" memutuskan jadi seorang suami, maka "gue" mati-matian berjuang untuk eksis sebagai suami sesuai tuntutan peran tersebut. "Gue" membutuhkan reaksi "elo-elo" untuk membuktikan bahwa "gue" memang "meng-ada" sebagai seorang suami. Dan reaksi "elo-elo" yang paling gue butuhkan adalah dari "elo" yang berperan sebagai "istri" "gue". Reaksi "elo-elo" lain juga penting dan menunjang eksistensi "gue". Misalnya "elo-elo" yang tergolong "mertua". Hehehe...
Kalau ngikutin cara berpikir ini, kayaknya tiap orang kok egois ya? Semua dilakukan semata-mata agar eksis. Apa nggak ada cara untuk menjadi lebih dari seseorang yang semata-mata memperjuangkan eksistensinya sendiri?
Kalau ngikutin si Nietzsche saja memang kayaknya gak ada cara lain. Manusia emang kayak gitu. Tapi tenang aja, Tuhan menyediakan filsuf2 lain untuk menyelesaikan problema itu. hehehe. Namanya, tadi udah disebut, Fuad Hasan. Mantan mendikbud kita ini sebenernya seorang filsuf lokal yang memiliki reputasi internasional dengan konsep khas Indonesia-nya, kita dan kami. Ini orisinal lho. Hanya sedikit bahasa, salah satunya bahasa Indonesia (dan bahasa serumpun) yang secara nyata membedakan keberadaan kolektif manusia menjadi kita dan kami. Bahasa lain, misalnya bahasa inggris, cenderung menyamakan kita dan kami dalam satu label yaitu "we".
Fuad Hasan menyatakan bahwa kebutuhan eksistensi tidak harus selalu dipuaskan dengan menjadi manusia individual yang butuh pengakuan dari individu lain. Kalau Nietzsche bilang begitu, itu semata-mata karena dia gak banyak tahu masyarakat yang kulturnya beda dari tempat dia tinggal. Fuad Hasan lebih beruntung karena dia tinggal di Indonesia dan mengecap pendidikan Eropa. So, dia mengalami kedua jenis kultur. Kultur Eropa yang cenderung individual dan kultur Indonesia yang memang cenderung kolektif.
Orang Indonesia, pada umumnya memulai hidup dengan tendensi keberadaan yang kolektif. Jadi, bila kemudian menjadi terindividualisasi, itu tidak "alami" secara kultur. Ini bukan berusaha bikin stereotip. Tapi memang begitulah adanya dan gak harus juga jadi persoalan. Masalah budaya, sebagian besarnya, adalah masalah perbedaan cara pandang dunia, bukan masalah etik. Biarin aja mau kayak apa juga hehehe...
Kembali ke Fuad Hasan. Kalau ngikutin cara pikir beliau maka kita bisa ngerubah prinsipnya jadi the we is older than the I, or might be the only thing that exists. Maksudnya, "kami" ada lebih duluan dan mungkin selamanya cuma ada "kami". Gak ada "gue" dan gak ada "elo". Ini nyata lho. Kalau buat kita terasa aneh, ya mungkin karena kita udah lumayan "tercemar" oleh kultur yang lebih individual. Di beberapa tempat dengan kultur alami Indonesia, bahkan soal anak istri pun bisa jadi bukan cuma punya "gue" tapi punya "kami". Ya tarlah kapan2 kita omongin.
So, dalam cara pandang seperti ini, secara idealnya, setiap orang melakukan sesuatu demi eksistensi bersama. Bukan demi membuktikan eksistensi diri. "Gue" bertindak agar "kami" berada dalam kesadaran bahwa "kami" ada. Bahkan, suatu saat "kami" bertransformasi jadi "kita".
Hmmm.... sayangnya, hari geneeee butuh ketulusan yang besar untuk bisa menjalani prinsip itu. Kita udah terlanjur terbiasa untuk berlaku berbeda dan makin lama makin jauh dari prinsip alami kultur kita itu. Sebelumnya, hal kayak gini mungkin tergolong "All that we know of". Jadi ketulusan bukan isu. Karena orang sudah dengan sendirinya menjalankan modus eksistensi "kolektif". Aksioma psikologi yang mengatakan bahwa "tiap orang itu unik" rupanya dikembangkan secara berlebihan sehingga menjadi hama yang luar biasa kuat bagi modus "kami" dan "kita". Kemajuan peradaban atau kepunahan budaya? Atau dua-duanya?
Bagaimana pun, kebutuhan eksistensi dalam berbagai bentuknya adalah sesuatu yang alami. Tinggal kita yang memutuskan.
Mau jadi "gue" atau "kami"?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar