Sabtu, 05 Desember 2009

..and she is there waiting...for a bit of my conscience

You know what went wrong at the time we did not talk too much but we know that we love each other? There was nothing wrong... everything was just right, except that it wasnt said much.

How should I wait for the nite to come? Because you are there...away from any piece of me. Yet, you are here. A spiritual representative of you cannot go anywhere. My heart is staying with it.

Hunny, we cannot deny the fact that we didnt know each other until you suddenly came and fulfilled the corners of soul that once never even been identified. I never knew that those corners exist, like i never knew that you do.

I dont mean to be unfair.... i just want everything to be right... on time...not on hold...

So, sweetheart, please stay close to me deep down inside. Even though you're far away.

Someday we will meet again for good...and when the time comes, I promise, I will not let you go again...

-daddy-

Selasa, 10 November 2009

Kebutuhan Eksistensi alias Kebutuhan "Hadir"

Pernah mengalami tidak eksis atau tidak "ada" di dunia ini? Terutama aspek sosialnya? Rasanya kita seperti ada dan tiada. Ada secara fisik, tapi tiada secara hal-hal selain itu. Pernah nggak? Dalam situasi ini, rasanya satu-satunya yang menyadari keberadaan kita cuman kita sendiri, dan mungkin, kalau percaya, Tuhan. Itu pun kalau Tuhan gak lagi males inget-inget kita hehehe...

Sebenernya secara teoretis, ada yang mendefinisikan kebutuhan eksistensi sebatas kebutuhan untuk hidup atau "ada" secara minimal, ya itu tadi, secara fisik. Maksud gue, ini mengacu pada kebutuhan-kebutuhan dasar seperti makan, minum, tidur, pakaian dll. Tapi sebenernya, menjadi eksis adalah lebih dari sekedar itu. Ya nggak?

Bayangkan, cukup makan, cukup minum, cukup tidur, cukup berpakaian pantas tapi dianggap tidak ada oleh sekeliling lo. Lo ada atau nggak ada, no one really cares. Hidup mereka berjalan baik-baik aja tanpa lo. Bahkan, saking dianggap gak eksisnya elo, sampe-sampe mereka nggak nyadar lo tuh mungkin aja penting. Misalnya, kalau lo seorang janitor yang selalu bikin bersih lingkungan tempat lo kerja. Barangkali banyak orang tidak pernah menyadari eksistensi atau keberadaan lo sampe lo bener-bener nggak ada. Baru berasa, bahwa tanpa lo, mereka gak bisa kerja dengan nyaman.

Kayaknya agak paradoks ya? Di satu sisi lo gak digubris, tapi di sisi lain, ketika lo gak ada, orang pada panik. hehehe... well, thats life.. people tend to not pay enough attention to things they do not do, even when it actually affects them. They will start to notice when it does not exist, out of the sudden.

Jadi, mau tau betapa pentingnya elo untuk lingkungan lo? Stop doing your thing! ...and observe...

Ok, mari bicara lebih jelas. Tentang kebutuhan eksis. Kenapa sih itu jadi kebutuhan? Ini sebenernya sebuah problem filosofi yang udah berabad-abad coba dipecahkan, tapi begitu ketemu satu pemecahan, problem berikutnya muncul. Mulai dari filsuf super senior kelas dunia semacam Socrates, sampe ke yang lokal punya kayak eks mendikbud kita, Fuad Hasan, semua mencoba melakukannya. Namun, nampaknya memang ini adalah obyek pemikiran yang gak akan ada habisnya. Bahkan, di tingkat individual, di masing-masing orang, ini juga bagaikan tambang minyak tanpa batas deposit. Adaaaa terus....

Seorang filsuf, Nietzsche, pernah bilang "the you is older than the I". Maksudnya, gue tuh menyadari keberadaan "lo" dulu sebelum gue menyadari keberadaan "gue" sendiri. Kalau nggak ada "elo", gue juga gak menyadari bahwa "gue" itu ada. Pernyataan ini bener banget deh kayaknya. Gimana nggak? Siapa sih yang gak butuh "elo" untuk merasa "gue" itu eksis? Lebih menyedihkan lagi, "gue" butuh "elo" bereaksi atas keberadaan fisik "gue" agar gue yakin bahwa "gue" betul-betul ada atau eksis. Kalau "elo" diem aja dan cuek aja sama "gue", maka "gue" gak eksis. Gitu kira-kira.

Dan, lo tau gak? Betapa banyak perilaku kita didorong oleh prinsip tersebut. Betapa banyak piihan-pilihan hidup kita dibuat sekedar untuk menunjang eksistensi "gue" di hadapan "elo-elo semua". Terutama ketika kita telah memilih sebuah modus eksistensi atau bahasa gampangnya peran tertentu. Waktu "gue" memutuskan jadi seorang suami, maka "gue" mati-matian berjuang untuk eksis sebagai suami sesuai tuntutan peran tersebut. "Gue" membutuhkan reaksi "elo-elo" untuk membuktikan bahwa "gue" memang "meng-ada" sebagai seorang suami. Dan reaksi "elo-elo" yang paling gue butuhkan adalah dari "elo" yang berperan sebagai "istri" "gue". Reaksi "elo-elo" lain juga penting dan menunjang eksistensi "gue". Misalnya "elo-elo" yang tergolong "mertua". Hehehe...

Kalau ngikutin cara berpikir ini, kayaknya tiap orang kok egois ya? Semua dilakukan semata-mata agar eksis. Apa nggak ada cara untuk menjadi lebih dari seseorang yang semata-mata memperjuangkan eksistensinya sendiri?

Kalau ngikutin si Nietzsche saja memang kayaknya gak ada cara lain. Manusia emang kayak gitu. Tapi tenang aja, Tuhan menyediakan filsuf2 lain untuk menyelesaikan problema itu. hehehe. Namanya, tadi udah disebut, Fuad Hasan. Mantan mendikbud kita ini sebenernya seorang filsuf lokal yang memiliki reputasi internasional dengan konsep khas Indonesia-nya, kita dan kami. Ini orisinal lho. Hanya sedikit bahasa, salah satunya bahasa Indonesia (dan bahasa serumpun) yang secara nyata membedakan keberadaan kolektif manusia menjadi kita dan kami. Bahasa lain, misalnya bahasa inggris, cenderung menyamakan kita dan kami dalam satu label yaitu "we".

Fuad Hasan menyatakan bahwa kebutuhan eksistensi tidak harus selalu dipuaskan dengan menjadi manusia individual yang butuh pengakuan dari individu lain. Kalau Nietzsche bilang begitu, itu semata-mata karena dia gak banyak tahu masyarakat yang kulturnya beda dari tempat dia tinggal. Fuad Hasan lebih beruntung karena dia tinggal di Indonesia dan mengecap pendidikan Eropa. So, dia mengalami kedua jenis kultur. Kultur Eropa yang cenderung individual dan kultur Indonesia yang memang cenderung kolektif.

Orang Indonesia, pada umumnya memulai hidup dengan tendensi keberadaan yang kolektif. Jadi, bila kemudian menjadi terindividualisasi, itu tidak "alami" secara kultur. Ini bukan berusaha bikin stereotip. Tapi memang begitulah adanya dan gak harus juga jadi persoalan. Masalah budaya, sebagian besarnya, adalah masalah perbedaan cara pandang dunia, bukan masalah etik. Biarin aja mau kayak apa juga hehehe...

Kembali ke Fuad Hasan. Kalau ngikutin cara pikir beliau maka kita bisa ngerubah prinsipnya jadi the we is older than the I, or might be the only thing that exists. Maksudnya, "kami" ada lebih duluan dan mungkin selamanya cuma ada "kami". Gak ada "gue" dan gak ada "elo". Ini nyata lho. Kalau buat kita terasa aneh, ya mungkin karena kita udah lumayan "tercemar" oleh kultur yang lebih individual. Di beberapa tempat dengan kultur alami Indonesia, bahkan soal anak istri pun bisa jadi bukan cuma punya "gue" tapi punya "kami". Ya tarlah kapan2 kita omongin.

So, dalam cara pandang seperti ini, secara idealnya, setiap orang melakukan sesuatu demi eksistensi bersama. Bukan demi membuktikan eksistensi diri. "Gue" bertindak agar "kami" berada dalam kesadaran bahwa "kami" ada. Bahkan, suatu saat "kami" bertransformasi jadi "kita".

Hmmm.... sayangnya, hari geneeee butuh ketulusan yang besar untuk bisa menjalani prinsip itu. Kita udah terlanjur terbiasa untuk berlaku berbeda dan makin lama makin jauh dari prinsip alami kultur kita itu. Sebelumnya, hal kayak gini mungkin tergolong "All that we know of". Jadi ketulusan bukan isu. Karena orang sudah dengan sendirinya menjalankan modus eksistensi "kolektif". Aksioma psikologi yang mengatakan bahwa "tiap orang itu unik" rupanya dikembangkan secara berlebihan sehingga menjadi hama yang luar biasa kuat bagi modus "kami" dan "kita". Kemajuan peradaban atau kepunahan budaya? Atau dua-duanya?

Bagaimana pun, kebutuhan eksistensi dalam berbagai bentuknya adalah sesuatu yang alami. Tinggal kita yang memutuskan.

Mau jadi "gue" atau "kami"?






Sabtu, 07 November 2009

Spiritualitas-Mencari Muara Kehidupan

BINCANG-BINCANG PENGANTAR
Pernah dengar istilah kecerdasan spiritual? 5-10 tahun terakhir ini istilah tersebut meraih popularitas yang tinggi. Dia muncul sebagai sebuah konklusi mutakhir dari konsep kecerdasan. Belum ada konsep baru yang muncul untuk mengatasi atau minimal menyainginya. Saya sendiri agak sulit membayangkan bahwa nantinya akan ada konsep baru yang mengklaim realitas kecerdasan yang lebih tinggi lagi dari ini. Pencetus terminologi kecerdasan spiritual terlanjur mengalamatkan frase tersebut ke sebuah entitas yang barangkali sudah tidak bisa dicari lagi apa yang lebih tinggi dari itu, sejauh menyangkut kecerdasan manusia.

Menilik sejarah konsep kecerdasan, kita akan dihadapkan pada sebuah masa "kelam" dimana manusia mudah sekali dikategorisasikan dalam angka-angka yang menggambarkan seberapa berguna dia dalam peradaban. Angka-angka itu dikenal dengan istilah IQ (intelligence quotient). IQ adalah cerminan tingkat kecerdasan dalam berpikir yang dimiliki seseorang. Ia juga diyakini sebagai prediktor kesuksesan akademis dan karir. Singkatnya, kalau ada orang yang IQ-nya tinggi maka dia akan dengan mudah mendapat nilai tinggi di sekolah dan...dengan demikian gaji tinggi di kantor. Kenapa digaji tinggi? Karena nampaknya orang tersebut akan sangat berguna bagi kelangsungan. pertarungan rugi-laba di kantor tersebut.

Fenomena underachiever dan overachiever atau orang-orang yang berprestasi di atas atau di bawah prediksi berbasis IQ-nya membuat mata beberapa peneliti terbuka. Ternyata, kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh IQ. Bahkan, kesuksesan lebih banyak ditentukan oleh faktor lain? Faktor apa? Warisan harta orang tua? Lotere? Hehehe..bukan. Faktor tersebut adalah keterampilan mengendalikan diri. Terbukti bahwa mereka yang lebih handal dalam mengendalikan diri dalam bentuk disiplin, sabar, empati pada orang lain, adaptasi dan sebagainya adalah mereka yang sukses, bahkan ketika IQ mereka biasa-biasa saja.

Di sisi lain, manusia ber-IQ selangit, terbukti gagal total ketika tak sanggup mengendalikan dan mengelola dirinya sendiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan. Begitu katanya. Kemudian, secara agak serampangan, para peneliti yang menemukan semua itu, menciptakan label untuk konsep ini yang bertajuk "kecerdasan emosional". Sebuah istilah yang kalau tidak dikaji pemahaman di baliknya, akan semata-mata membuat kita mengira bahwa ia hanya bicara tentang kesabaran dan semacamnya.

Beberapa peneliti tidak puas dengan meyakini bahwa kecerdasan emosional adalah kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia dan kecerdasan yang paling menentukan kualitas kehidupan seseorang. Mereka mencoba bergerak lebih jauh lagi. Mengkaji gejala-gejala psikologis usang yang ditafsir ulang. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang sesungguhnya telah dibahas para filsuf eksistensial berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Namun, barang kuno itu ternyata menjadi sangat bernas dan populer ketika dikaitkan dengan konsep kesuksesan (dalam meraih hal-hal duniawi).

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah seputar apa tujuan hidup manusia? Apa maknanya? Apa yang membuat kita bahagia dan merasa "lengkap"? Bagaimana kita dibimbing oleh sesuatu yang lebih tinggi di luar kita dalam menjalani hidup? Bagaimana hubungan kita dengan alam....dan dengan....Tuhan? Yang terakhir ini sebenarnya tidak selalu terang-terangan dijadikan pokok bahasan karena Tuhan, kurang lebihnya, sudah menjadi kajian masa lalu yang dirasa kurang relevan lagi pada tahap peradaban masa kini. Namun, fitrah sebagai ciptaan membuat banyak orang sulit sekali terhindar dari kerinduan akan sosok Tuhan, meski dikemas malu-malu dalam kerangka yang agak beda dari pandangan tradisional. Sebagian menyebutnya energi alam, pribadi tinggi (higher self), jiwa alam semesta, ALIEN (!), hati nurani dan sebagainya.

Kemampuan manusia menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu dan bagaimana ia menjalani hidupnya berdasarkan jawaban-jawaban itu disebut sebagai kecerdasan spiritual. Seseorang dikatakan "cerdas" secara spiritual bila memiliki jawaban yang jitu atas hal-hal itu dan mengimplementasikan jawabannya dalam kehidupan. Sehingga, ia menjadi sosok yang berimbang, bahagia, bijaksana dan berkontribusi pada sekelilingnya.

Selama beberapa tahun belakangan, dunia mengalami banjir buku seputar kecerdasan spiritual. Yang paling populer adalah pelajaran-pelajaran tentang bagaimana manusia bisa menjadi pemenang dalam kehidupan kapitalisme dengan memanfaatkan sisi spiritualnya. Istilah-istilah seperti "berdagang ala Nabi", "meraih kesuksesan bisnis dengan kecerdasan spiritual", "pemasaran dengan hati", dan lain sebagainya mengisi rak-rak di toko buku dan di perpustakaan pribadi atau sekedar di tas ribuan orang dewasa yang sedang sibuk meraih puncak dari karir mereka.

Agak membingungkan memang. Bagaimana mungkin sebuah konsep yang demikian "surgawi" (untuk tidak menyebutnya ilahiah) ternyata mudah sekali dibawa "turun" untuk jadi kendaraan meraih kesuksesan duniawi. Sementara, sumber-sumber ajaran spiritual klasik seringkali menekankan perlunya mengambil jarak dengan apa yang profan (duniawi) ketika kita hendak mengasah spiritualitas. Saya hanya bisa simpulkan, demikianlah kita sedang menyaksikan kehandalan para penulis dan motivator-motivator ulung dalam merancang ulang struktur kesadaran manusia di titik paling rentan yaitu, hati.

BAGIAN UTAMA
Masih mungkinkah kita bicara spiritualitas tanpa mengkaitkannya dengan kesuksesan materi dan sensasi? Pertanyaan sulit. Bahkan doa-doa yang lebih sering kita panjatkan pada Tuhan masing-masing tidak beranjak jauh dari mohon dimudahkan mencari rejeki. Syukur yang kita persembahkan juga masih seputar nikmat-nikmat lahiriah. Hati pun sangat siap mengambil jarak dari Tuhan saat hidup tidak ramah pada kita. Tiba-tiba kita buta dari kasih sayangNya. Dalam sekejap....Tuhan kita pinggirkan, untuk tidak menyebutNya kita singkirkan. Hanya ketika kita sudah merasa benar-benar tak sanggup, Dia kembali kita hadirkan. Celakanya, kita hadir "di hadapan"Nya dalam keadaan terburuk, bukan terbaik. Ibarat pakaian, compang camping tanpa tambalan... dan di situ kita baru berharap padaNya...

Di titik ini, banyak orang berpendapat bahwa Tuhan tidak selalu harus jadi elemen utama dalam spiritualitas. Bahkan, tidak ada Dia dalam spiritualitas kita pun tidak mengapa. Saya pribadi meragukan ide spiritualitas semacam itu. Benarkah manusia sanggup membangun keruhanian sejati tanpa kehadiran Tuhan, walau pun hanya sebagai konsep? Lalu apa ide inti spiritualitasnya? Dapatkah kemanusiaan belaka menjadi pijakannya? Bukankah manusia sedemikian nisbi dan relatif? Dalam hal ini saya memilih menjadi konservatif dan berusaha menghormati mereka yang lebih liberal.

Immanuel Kant, seorang sosiolog dan filsuf etis dari abad lalu, meyakini bahwa terlepas dari ada tidaknya Tuhan secara nyata, konsep ketuhanan diperlukan agar manusia terkendali dalam bertingkah laku sosial. Juga agar manusia yang baik dan jahat, jelas bedanya. Memandang etika atau moralitas semata-mata sebagai hasil pergumulan manusia dengan ide-ide di kepalanya sendiri adalah tidak efektif. Harus ada sistem yang diyakini mensupervisi tingkah laku manusia terutama dalam konteks masyarakat.

Sistem itu haruslah sesuatu di luar masyarakat manusia. Jadi, bukan sekedar negara, undang-undang, pemerintah, kepala suku, United Nations, dan lain-lain. Saya sepakat dengan Kant. Bahwa agama tidak harus ada untuk memandu etika manusia, saya juga setuju. Tapi Tuhan harus ada. Apapun bentuk eksistensi-Nya. Tidak masalah bila Dia hanya sebuah tulisan di atas kertas atau sebuah kehadiran menyeluruh dalam kesadaran manusia.

Dalam hal ini Kant berujar:

Allah adalah pribadi yang menjamin bahwa manusia yang bertindak baik demi kewajiban moral akan memperoleh kebahagiaan sempurna. Jika Allah ditolak eksistensinya, maka moralitas tidak memiliki arti, karena “nasib” orang yang hidupnya baik secara moral akan sama saja dengan “nasib” orang jahat, sehingga buat apa kita hidup baik?


Sampai di sini paling tidak ada dua isu terkait spiritualitas. Yang pertama adalah "mengembalikan" spiritualitas sebagai sebuah konsep yang tidak perlu dikait-kaitkan dengan pencapaian material. Lalu, yang kedua adalah apakah kita perlu mengasosiasikan spiritualitas dengan Tuhan.


Ketika mencoba menyelesaikan tulisan ini saya sempat terhenti di paragraf yang menyitir pendapat Kant di atas. Saya tidak tahu apakah pendapat itu sedemikian mencerahkan karena isinya atau semata-mata karena ia diucapkan oleh seorang filsuf yang kredibilitasnya baik di dunia akademis. Akhirnya saya berpikir bahwa pendapat itu memang layak dijadikan pegangan. Karena saya menyaksikan bagaimana orang-orang yang mengembangkan spiritualitas non-teistik pun tidak dapat mengelak dari "memuja" sesuatu yang diyakini lebih tinggi dari dirinya sendiri. Sesuatu itu bisa sebuah ide primordial atau ideal, tokoh-tokoh pemikiran yang diyakini, atau sekedar sebuah keadaan mental yang diburu. Buat saya, itu sekedar tuhan-tuhan baru. Memang nampaknya berbeda dengan tuhan-tuhan di ajaran berbagai agama, tapi perbedaan mendasarnya cuma bahwa tuhan-tuhan mereka tidak mengalami personifikasi. Dengan kata lain, tuhan mereka tidak memiliki kepribadian sendiri.


Bagaimana pun, mereka membutuhkan muara dari kehidupan mereka. Tempat dimana mereka berjumpa dengan apapun itu yang mereka puja. Sama seperti orang beragama yang mencari surga, akhirat, manunggaling kawula gusti, wajah Allaah, dan sebagainya.


Karena spiritualitas adalah usaha mencari jalan menuju muara kehidupan kini dengan sasaran pemujaan, layakkah ia dijadikan sekedar alat menjalani kehidupan, seperti yang digaungkan para guru-guru kesuksesan pengusung konsep kecerdasan spiritual? Layakkah bila ia hanya media dan bukan arus utama kesuksesan? Keberhasilan sejati justru ada pada pencapaian spiritual, bukan pencapaian material yang dibingkai dengan spiritualitas. Setidaknya itu menurut saya.


Dengan demikian, yang perlu dilakukan adalah mengalihkan perhatian orang dari apa pun itu selain spiritualitas. Selebihnya, biarkan berjalan mengikuti arus. Jadikan manusia bergerak menuju muara masing-masing. Jangan sekedar bercerita tentang seperti apa muara itu lalu tetap saja orang dihimbau untuk menggapai kesuksesan yang pada dasarnya tidak ruhani sama sekali.


Ini cuma pemaparan keadaan saat ini, suatu saat ia harus berubah. Menjadi yang sebaiknya, sesuai akar alaminya. Inovasi tidak dibutuhkan dalam hal ini, yang diperlukan justru keberanian mengubah total paradigma pragmatis menuju makna spiritualitas sejati.


Sanggupkah kita benar-benar menuju ke sana?

















Rumah Senilai bantuan darurat untuk 2000 KK Penyintas (survivors) Gempa Sumbar

Baru saja nonton sebuah advertorial di sebuah stasiun TV. Isinya tentang promosi sebuah kompleks perumahan di daerah pantai indah kapuk. Hebat banget kompleks itu. Berbagai fasilitas mirip taman surga ditawarkan. Ada danau yang cantik banget, jogging track khusus, lapangan golf tepat di depan rumah, neighborhood park, dsb. Pokoknya kalau tinggal di situ, bawaannya males kerja deh (seperti yang dikutip dari omongan artis yang jadi model advertorial tersebut).

Harganya? per unit kira-kira 2 M. hmhhff.... trus udah gitu, kalau pun kita mau nyicil, cicilannya 36 jetli per bulan. mantaaaaaapppp :P ...... Profesi apa yang kira-kira bisa membiayai cicilan sebesar itu? Markus? Istri simpanan? Gigolo kelas atas? hehehe... ya ada lah pasti profesi legal yang bisa menjamin terlunasinya cicilan tersebut.

Masih inget gempa sumbar?

Kantor gue, sebagai NGO yang bergerak di bidang-bidang yang perlu ada pergerakan...hehehe...berpartisipasi dalam penanganan gempa sumbar. Salah satu penanganannya adalah di bidang penyaluran bantuan makanan serta non makanan. Kami menjadikan 2000 kepala keluarga sebagai sasaran selama 3 bulan. Dan nilai persisnya bantuan-bantuan tersebut kurang lebih sama dengan rumah2 tak terjangkau tersebut. 2 M!!

Wow....gue terpana....jiah lebay :P . Bayangin.... shelter kit, emergency food, alat-alat kebersihan, dan alat-alat pertukangan yang dibeli untuk 2000 KK itu senilai rumah muaaaahaaall yang paling banyak menampung 6 orang.

I'm amazed. Not knowing how to express it properly in written form, but yes I am amazed....

Do we have less things but more money than what we need?

cheers....


Hidup tanpa Facebook

Hari ini, dalam rangka mentaati perintah dari para Masyayikh, gue menutup facebook. Hmmm, sebenernya berat. Lumayan banyak pengalaman dan cerita-cerita menarik yang gue dapet. Dari mulai bisa akrab lagi sama temen-temen lama dan juga para sepupu, sampai ketemu teman-teman baru.

Bagaimana pun, nampaknya, timbangan para Maulana menunjukkan bahwa setidaknya untuk gue, facebook lebih banyak membawa jalan gue mendekatkan diri sama Yang Maha Kasih terinterupsi secara signifikan. Gue rasa gue harus ikuti timbangan itu. Sebelum gue harus menghadapi timbangan hakiki di yaumil mizan nanti.

Terdengar moralis? Sok suci? Barangkali.

Tapi, setidaknya untuk satu kali ini saja, gue ingin patuh pada para Syaikh, tanpa banyak bertanya...


Sabtu, 28 Februari 2009

Serpih

serpih...
bagian dari sebuah keseluruhan
mungkin mengandung semua elemen keseluruhan tersebut
dalam jumlah yang tidak penting
sehingga sering diseka agar lenyap

serpih...
bukan yang dipuja
bukan yang diharap
tapi hadir
untuk dilap