Sabtu, 05 Desember 2009
..and she is there waiting...for a bit of my conscience
How should I wait for the nite to come? Because you are there...away from any piece of me. Yet, you are here. A spiritual representative of you cannot go anywhere. My heart is staying with it.
Hunny, we cannot deny the fact that we didnt know each other until you suddenly came and fulfilled the corners of soul that once never even been identified. I never knew that those corners exist, like i never knew that you do.
I dont mean to be unfair.... i just want everything to be right... on time...not on hold...
So, sweetheart, please stay close to me deep down inside. Even though you're far away.
Someday we will meet again for good...and when the time comes, I promise, I will not let you go again...
-daddy-
Selasa, 10 November 2009
Kebutuhan Eksistensi alias Kebutuhan "Hadir"
Sabtu, 07 November 2009
Spiritualitas-Mencari Muara Kehidupan
Allah adalah pribadi yang menjamin bahwa manusia yang bertindak baik demi kewajiban moral akan memperoleh kebahagiaan sempurna. Jika Allah ditolak eksistensinya, maka moralitas tidak memiliki arti, karena “nasib” orang yang hidupnya baik secara moral akan sama saja dengan “nasib” orang jahat, sehingga buat apa kita hidup baik?
Sampai di sini paling tidak ada dua isu terkait spiritualitas. Yang pertama adalah "mengembalikan" spiritualitas sebagai sebuah konsep yang tidak perlu dikait-kaitkan dengan pencapaian material. Lalu, yang kedua adalah apakah kita perlu mengasosiasikan spiritualitas dengan Tuhan.
Ketika mencoba menyelesaikan tulisan ini saya sempat terhenti di paragraf yang menyitir pendapat Kant di atas. Saya tidak tahu apakah pendapat itu sedemikian mencerahkan karena isinya atau semata-mata karena ia diucapkan oleh seorang filsuf yang kredibilitasnya baik di dunia akademis. Akhirnya saya berpikir bahwa pendapat itu memang layak dijadikan pegangan. Karena saya menyaksikan bagaimana orang-orang yang mengembangkan spiritualitas non-teistik pun tidak dapat mengelak dari "memuja" sesuatu yang diyakini lebih tinggi dari dirinya sendiri. Sesuatu itu bisa sebuah ide primordial atau ideal, tokoh-tokoh pemikiran yang diyakini, atau sekedar sebuah keadaan mental yang diburu. Buat saya, itu sekedar tuhan-tuhan baru. Memang nampaknya berbeda dengan tuhan-tuhan di ajaran berbagai agama, tapi perbedaan mendasarnya cuma bahwa tuhan-tuhan mereka tidak mengalami personifikasi. Dengan kata lain, tuhan mereka tidak memiliki kepribadian sendiri.
Bagaimana pun, mereka membutuhkan muara dari kehidupan mereka. Tempat dimana mereka berjumpa dengan apapun itu yang mereka puja. Sama seperti orang beragama yang mencari surga, akhirat, manunggaling kawula gusti, wajah Allaah, dan sebagainya.
Karena spiritualitas adalah usaha mencari jalan menuju muara kehidupan kini dengan sasaran pemujaan, layakkah ia dijadikan sekedar alat menjalani kehidupan, seperti yang digaungkan para guru-guru kesuksesan pengusung konsep kecerdasan spiritual? Layakkah bila ia hanya media dan bukan arus utama kesuksesan? Keberhasilan sejati justru ada pada pencapaian spiritual, bukan pencapaian material yang dibingkai dengan spiritualitas. Setidaknya itu menurut saya.
Dengan demikian, yang perlu dilakukan adalah mengalihkan perhatian orang dari apa pun itu selain spiritualitas. Selebihnya, biarkan berjalan mengikuti arus. Jadikan manusia bergerak menuju muara masing-masing. Jangan sekedar bercerita tentang seperti apa muara itu lalu tetap saja orang dihimbau untuk menggapai kesuksesan yang pada dasarnya tidak ruhani sama sekali.
Ini cuma pemaparan keadaan saat ini, suatu saat ia harus berubah. Menjadi yang sebaiknya, sesuai akar alaminya. Inovasi tidak dibutuhkan dalam hal ini, yang diperlukan justru keberanian mengubah total paradigma pragmatis menuju makna spiritualitas sejati.
Sanggupkah kita benar-benar menuju ke sana?